Kiranya kamu belum pernah dengan-dengar tentang Pulau Ndana. Pulau yang letaknya paling selatan Indonesia yang sangat indah akan tetapi juga memiliki banyak kisah misteri.
Beberapa waktu lalu, penulis berpeluang berkeliling Kabupaten Rote Ndao di NTT. Kabupatennya berbentuk kepulauan dengan total 96 pulau. Akan tetapi, hanya tujuh pulau yang berpenghuni secara Pulau Rote sebagai yang paling besar.
Sebelum menginjakkan kaki dalam Pulau Ndana, terlebih dulu saya mampir di Pulau Rote. Ada tiga jalan menuju Rote dari Kupang, ibu kota provinsi NTT.
- Cara pertama bisa menggunakan kapal cepat yang memakan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan. Kapal Express dari Kupang ke Rote berangkat dua kali sehari dari Kupang jam 08. 30 (setiap hari) dan 14. 30 (setiap hari, kecuali Selasa & Rabu). Harga tiket kelas Eksekutif Rp 132. 000 dan kelas VIP Rp 162. 000 (Oktober 2019).
- Cara ke 2 adalah menggunakan kapal ferry ASDP dengan jarak penyeberangan sepanjang 4 jam. Kapal itu berangkat setiap hari jam 07. 30 dari Pelabuhan Bolok Kupang menuju Rote. Perlu dicatat, keberangkatan kapal ferry ASDP sangat tergantung pada keadaan ombak, jadi traveler harus meng-update informasinya di dermaga sebelum kepergian.
- Adapun cara ke 3 yang amat cepat ialah menggunakan pesawat dari Bandara Internasional El Tari di Kupang (KOE) menuju Bandara DC Saudale di Rote (RTI). Pesawat Wings Air terbang dua kali sehari dari Kupang ke Rote jam 06. 40 dan 15. 10 dengan harga tiket sekitar Rp 347. 500 (harga bulan Oktober 2019).
Satu diantara pulau yang lokasinya pada paling selatan Indonesia ialah Pulau Ndana. Pulau yang tak berpenghuni, cuma ditempati sekitar 30-an tim Satgas Pengamanan Pulau Terluar daripada kesatuan TNI Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL).
Untuk pergi ke Pulau Ndana, satu-satunya cara merupakan melalui Oeseli. Desa Oeseli letaknya sekitar 1 jam dari Kota Baa, ataupun setengah jam dari Wilayah Nemberala, sebuah tempat yang mana biasa ditemui penginapan untuk para wisatawan. Di Desa Oeseli ada pos Satuan Petugas (Satgas) dari TNI yang mana kita dapat minta izin untuk berkunjung di Pulau Ndana.
Pulau Ndana dapat dikunjungi wisatawan. Asal, wisatawan melapor dulu di tim Satgas Pengamanan Pulau Terluar di Pantai Oeseli, Desa Oeseli, Kecamatan Rote Barat Daya. Baru sesudah itu mencarter perahu nelayan setempat untuk sampai dalam Pulau Ndana sekitar 1 jam.
"Pulau Ndana, percaya tidak percaya memiliki banyak misteri, " kata Frengky, nelayan pemandu kami.
Misteri pada Pulau Ndana diawali daripada perjalanan menuju ke sana. Silakan bertanya kepada penduduk asli di Rote, cuma orang asli suku Desa Oeseli yang dapat membawa perahu berlayar di Pulau Ndana. Seumpama bukan orang asli Oeseli, tentu perahu akan tenggelam.
"Telah banyak kecelakaan perahu tenggelam di perairan pantai Ndana. Ombaknya amat gede dan katanya ada turbulensi air, maka itu hanya orang2 Desa Oeseli yang mampu berlayar ke Pulau Ndana, " tegas Frengky.
Tatkala perahu berlayar, saya benar2 mendapati ombak laut yang gede. Gelombangnya tampak jelas, yang mana posisi air selaras dengan badan kapal. Jadi, kami menaiki ombak itu dan rasanya seperti terombang-ambing hebat!
Sesekali badan terciprat oleh air laut. Kita semua berpegangan kencang di badan kapal, cuma Frengky nelayan kami saja yang tampak santai.
Semakin mendekati Pulau Ndana, jelas terlihat gelombang besar. Bisa 4 meter tingginya!
"Tidak sedikit juga lho pelancong mancanegara ke Pulau Ndana untuk berselancar, sebab ombaknya bagus bagi mereka, " kata Frengky.
Pelayar an 1 jam ke Pulau Ndana rasa-rasanya amat menegangkan. Seakan-akan laksana mengunjungi pulau antah-berantah yang dikelilingi banyak tantangan.
Sekedar info , kapal tidak dapat melaju arah lurus ketika akan sampai di Pulau Ndana. Kapal mesti berputar mengitar pulaunya sampai ke bagian belakang.