Tuesday, October 8, 2019

Pantai Mulut Seribu, Raja Ampat nya Pulau Rote


Mulut Seribu adalah salah satu dari sekian banyak destinasi wisata andalan dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Disebut-sebut menyerupai Raja Ampat, keindahan merambah gugusan pulaunya jadi pengalaman yang patut dicoba.

Pantai Mulut Seribu di Rote Ndao, NTT ini terdiri dari gugusan batu-batu besar yang terbentang dalam laut lepas sangat menawan. Sangat eksotik. Sayang, publisitas yang diusahakan masih teramat sedikit.

Ternyata, Nusa Tenggara Timur menyimpan sejuta pesona, salah-satunya Pantai Mulut Seribu Daima Rote Ndao.


"Mulut seribu, sanggup dikembangkan jadi obyek wisata menarik, mini raja empat ala Pulau Rote. Di sana amat terkenal dengan pengembangan rumput laut, " kata Tigor tatkala berbicara pada kegiatan 'Sante-Sante Baomong deng Media' yang mempercakapkan Desiminasi Laporan Perekonomian NTT & Peremagan Sektor Jasa Keuangan dan Edukasi Perlindngan Konsumen di Kantor Perwakilan BI NTT, Selasa (9/7).


Perairan mulut seribu berada pada Kecamatan Landu Leko, Kota Rote Ndao, adalah kumpulan pulau-pulau kecil serupa dengan destinasi wisata Raja Ampat di Papua Barat.

Lokasi itu mulai berkembang sebagai tujuan wisata favorit beberapa tahun terakhir, sehabis dikunjungi wisatawan lokal atau pun mancanegara yang dan kemudian memviralkan lewat media sosial.

Selain gugusan pulau, pemerintah daerah juga dapat menjadikan budidaya dan pengolahan rumput laut di perairan itu sebagai destinasi yang menarik untuk dikunjungi para wisatawan.

"Dapat juga dibangun menara pandang, dan wisatawan mampu selfi sambil memandang di laut biru, " ujarnya.

Monday, October 7, 2019

Wisata Bukit Tangga 3oo


Tidak hanya jajaran pantainya aja yang indah, Rote nyatanya mempunyai sebuah keindahan unik yaitu sebuah bukit beserta panorama yang tak kalah menawan beserta bukit-bukit lainnya di Nusa Tenggara Timur. Satu lagi daya pikat alam dari ujung selatan Nusantara yang sayang untuk dilewatkan begitu saja, Bukit Mando’o namanya. Bukit itu menghadirkan panorama keindahan yang amat memesonakan dari ketinggian. Hamparan laut biru terpadu dengan hijaunya hutan bakau menaikkan sensasi kesejukan bukit ini. Tipikal relief & struktur tanahnya yang kian didominasi oleh kapur dan perbukitan rendah, menjelmakan Rote tidak memiliki gunung berapi. Titik tertinggi sdi daratan yang di huni oleh 130. 000 jiwa ini pun tidak sampai 1500 meter.

Berlokasi di Desa Kuli yang kaya akan hasil pertaniannya, Kecamatan Rote Timur, Kota Rote Ndao, NTT, jaraknya agak jauh dari pusat Kota Ba’a. Untuk mencapai puncak bukitnya, kamu kudu menaiki 488 anak tangga. Akan tetapi sebab sebelumnya cuma berjumlah sekitar 300-an aja, oleh sebab itu bukit ini lebih dikenal dengan julukan “Bukit Tangga 300” oleh warga lokal. Sepanjang petualangan menaiki anak tangga ini ditemui sejumlah bale-bale yang berguna sebagai pos peristirahatan, ataupun bahkan berlindung dari sengatan matahari dan hujan. Lanskap Perbukitan Lole pun terus-menerus mengiringi perjalanan pada setiap wisatawan dan seakan menggiatkan dari arah belakang. Rasa payah nantinya bakal terbayar lunas saat tiba di puncak, sebab pemandangan bentang alam di atas sana amat lah indah. Pada atas puncak sudah ada sejumlah lopo-lopo agar para wisatawan bisa beristirahat sejenak serta menikmati keindahan bentang alam Rote.



Di bagian utara, pemandangan Perbukitan Lole yang mengawani saat mendaki pun tampak dan di bagian selatan, birunya hamparan Samudera Hindia teramat memanjakan mata. Demikian pula di sebelah timur, pengunjung bisa mengamati kombinasi pemandangan Perbukitan Keka beserta teluk birunya. Untuk sesaat alihkan pandangan ke arah barat, pemandangan Desa Kuli dengan persawahannya terhampar menawan menyapa setiap mata yang memandangnya. Sungguh panorama 360 derajat yang sangat memesonakan dari atas Bukit Mando’o. Tak cuma pemandangan saja yang memperindah bukit cantik ini, akan tetapi jikalau sedang beruntung sekelompok kera yang sedang mencari makanan pun bakal menemani Anda pada puncak bukitnya. Lokasinya yang terletak di ketinggian menjadikan bukit ini menjadi spot favorit bagi para warga baik dalam atau luar pulau Rote untuk mereguk pemandangan alam Rote di atas. Bukit ini kendati amat tepat dalam menyaksikan saat matahari tenggelam pada sore hari. Tak heran, apabila bukit ini tampak selalu ramai dikunjungi para pelancong. Terlebih lagi bila hari libur, banyak rombongan yang membawa serta anaknya untuk piknik bersama pada atas bukit ini.

Akses Menuju Lokasi Wisata
Akses pelancongan ke Pulau Rote dari Kota Kupang bisa ditempuh melalui jalur udara dan laut, dengan penjelasan detail sebagai berikut:

Dengan udara, pengunjung bisa memakai pesawat dari Bandara El Tari Kupang ke Bandar udara Lekunik Rote, mempergunakan maskapai yang melayani rute Kupang-Rote-Kupang yaitu Trans Nusa serta Susi Air, dengan biaya sekitar 350000 rupiah (Oktober 2019) untuk sekali penerbangan. Untuk jadwalnya yaitu seminggu 3 kali yakni Senin, Rabu dan Jum’at/ Sabtu (jadwal dapat berubah tergantung situasi dan kondisi cuaca).
Namun via lautnya ada dua pilihan alternatif kapal yakni menggunakan kapal lambat (ferry) dan kapal cepat (speed boat). Apabila pengunjung memilih memakai kapal ferry, saat pemberangkatannya yaitu pukul 08. 00 WITA dari Pelabuhan Bolok, Kupang dan lalu berlabuh di Pelabuhan Pantai Baru, Rote. Waktu penyeberangan sekitar 3-4jam (tergantung cuaca & kondisi laut). Biaya penyebrangan kapal ferry reguler Kupang-Rote yaitu sebesar 54. 000 rupiah per orangnya. Untuk wisatawan yang ingin membawa kendaraan sepeda motor dari Kupang, akan dikenakan biaya sejumlah 116. 000 rupiah (untuk biaya 1 orang serta 1 sepeda motor). & bagi yang memilih alternatif kapal cepat berangkatnya yaitu dari Pelabuhan Tenau, Kupang dengan waktu keberangkatan pukul 08. 00 WITA. Pelayar an menggunakan kapal cepat membutuhkan waktu sekitar 1. 5-2 jam lamanya tergantung keadaan angin dan gelombang di laut. Biaya tiket kapal cepat sekitar 160. 000 rupiah untuk kelas ekonomi dan 190. 000 rupiah untuk kelas bisnisnya.

Setibanya di Pelabuhan Pantai Baru (Rote Ndao) pengunjung bisa meneruskan perjalanannya ke Kota Ba’a, sebuah kota kecil yang lumayan ramai dan bisa dikatakan sebagai pusat kotanya Pulau Rote. Jarak tempuh dari Pelabuhan Pantai Baru ke Kota Ba’a adalah sekitar 55 Menit, dengan kondisi jalanan beraspal halus. Kamu bisa memakai jasa ojek maupun menyewa kendaraan bermotor dari Kota Ba’a. Lalu kemudian lanjutkan perjalanan dari Ba’a ke Bukit Mando’o dengan waktu tempuh lebih kurang 1 jam waktu perjalanan. Keadaan jalan pergi ke bukit agak bervariatif, kadang kala beraspal mulus akan tetapi di sejumlah titik mendekati lokasi keadaan jalannya berbatu & berlubang. Sesampainya di tempat, kamu dapat menitipkan kendaraan di lahan parkir yang sudah disediakan.

Harga Tiket Masuk (HTM)
Biaya tiket masuk adalah 3. 000 rupiah per orangnya dan 1. 000 rupiah untuk parkir motor.

Fasilitas di Sekitar Lokasi
Tersedia banyak lopo-lopo yang siap dimanfaatkan para wisatawan dalam bersantai dan beristirahat sejenak selesai menaiki anak tangga. Pelayanan penunjang yang lain yaitu seperti toilet serta lahan parkir juga ada di sekitar area bukit. Namun tiada warung makan di lokasi wisata, sebaiknya kamu membawa bekal santapan paling utama air minum terlebih dulu yang dibeli dalam Ba’a.

Wisata ke Pulau Paling Selatan Indonesia


Kiranya kamu belum pernah dengan-dengar tentang Pulau Ndana. Pulau yang letaknya paling selatan Indonesia yang sangat indah akan tetapi juga memiliki banyak kisah misteri.

Beberapa waktu lalu, penulis berpeluang berkeliling Kabupaten Rote Ndao di NTT. Kabupatennya berbentuk kepulauan dengan total 96 pulau. Akan tetapi, hanya tujuh pulau yang berpenghuni secara Pulau Rote sebagai yang paling besar.

Sebelum menginjakkan kaki dalam Pulau Ndana, terlebih dulu saya mampir di Pulau Rote. Ada tiga jalan menuju Rote dari Kupang, ibu kota provinsi NTT.


  • Cara pertama bisa menggunakan kapal cepat yang memakan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan. Kapal Express dari Kupang ke Rote berangkat dua kali sehari dari Kupang jam 08. 30 (setiap hari) dan 14. 30 (setiap hari, kecuali Selasa & Rabu). Harga tiket kelas Eksekutif Rp 132. 000 dan kelas VIP Rp 162. 000 (Oktober 2019).



  • Cara ke 2 adalah menggunakan kapal ferry ASDP dengan jarak penyeberangan sepanjang 4 jam. Kapal itu berangkat setiap hari jam 07. 30 dari Pelabuhan Bolok Kupang menuju Rote. Perlu dicatat, keberangkatan kapal ferry ASDP sangat tergantung pada keadaan ombak, jadi traveler harus meng-update informasinya di dermaga sebelum kepergian.



  • Adapun cara ke 3 yang amat cepat ialah menggunakan pesawat dari Bandara Internasional El Tari di Kupang (KOE) menuju Bandara DC Saudale di Rote (RTI). Pesawat Wings Air terbang dua kali sehari dari Kupang ke Rote jam 06. 40 dan 15. 10 dengan harga tiket sekitar Rp 347. 500 (harga bulan Oktober 2019).


Satu diantara pulau yang lokasinya pada paling selatan Indonesia ialah Pulau Ndana. Pulau yang tak berpenghuni, cuma ditempati sekitar 30-an tim Satgas Pengamanan Pulau Terluar daripada kesatuan TNI Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL).

Untuk pergi ke Pulau Ndana, satu-satunya cara merupakan melalui Oeseli. Desa Oeseli letaknya sekitar 1 jam dari Kota Baa, ataupun setengah jam dari Wilayah Nemberala, sebuah tempat yang mana biasa ditemui penginapan untuk para wisatawan. Di Desa Oeseli ada pos Satuan Petugas (Satgas) dari TNI yang mana kita dapat minta izin untuk berkunjung di Pulau Ndana.



Pulau Ndana dapat dikunjungi wisatawan. Asal, wisatawan melapor dulu di tim Satgas Pengamanan Pulau Terluar di Pantai Oeseli, Desa Oeseli, Kecamatan Rote Barat Daya. Baru sesudah itu mencarter perahu nelayan setempat untuk sampai dalam Pulau Ndana sekitar 1 jam.

"Pulau Ndana, percaya tidak percaya memiliki banyak misteri, " kata Frengky, nelayan pemandu kami.

Misteri pada Pulau Ndana diawali daripada perjalanan menuju ke sana. Silakan bertanya kepada penduduk asli di Rote, cuma orang asli suku Desa Oeseli yang dapat membawa perahu berlayar di Pulau Ndana. Seumpama bukan orang asli Oeseli, tentu perahu akan tenggelam.

"Telah banyak kecelakaan perahu tenggelam di perairan pantai Ndana. Ombaknya amat gede dan katanya ada turbulensi air, maka itu hanya orang2 Desa Oeseli yang mampu berlayar ke Pulau Ndana, " tegas Frengky.

Tatkala perahu berlayar, saya benar2 mendapati ombak laut yang gede. Gelombangnya tampak jelas, yang mana posisi air selaras dengan badan kapal. Jadi, kami menaiki ombak itu dan rasanya seperti terombang-ambing hebat!

Sesekali badan terciprat oleh air laut. Kita semua berpegangan kencang di badan kapal, cuma Frengky nelayan kami saja yang tampak santai.

Semakin mendekati Pulau Ndana, jelas terlihat gelombang besar. Bisa 4 meter tingginya!

"Tidak sedikit juga lho pelancong mancanegara ke Pulau Ndana untuk berselancar, sebab ombaknya bagus bagi mereka, " kata Frengky.

Pelayar an 1 jam ke Pulau Ndana rasa-rasanya amat menegangkan. Seakan-akan laksana mengunjungi pulau antah-berantah yang dikelilingi banyak tantangan.

Sekedar info , kapal tidak dapat melaju arah lurus ketika akan sampai di Pulau Ndana. Kapal mesti berputar mengitar pulaunya sampai ke bagian belakang.